Skip to main content

Posts

Kisah Penelitian Kodok Bermata Biru

Mata Amir Hamidy berbinar saat melihat foto yang disodorkan sejawatnya Adiinggar Ul-Hasanah. Dalam foto itu tampak seekor kodok bermata biru. Peneliti Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Puslit Biologi, LIPI itu yakin, jenis ini belum pernah dikenal sebelumnya. Amir memang sedang studi master dengan topik taksonomi kodok genus Leptobrachium. Berbulan-bulan ia memeriksa dan mengkaji spesimen Leptobrachium yang tersimpan museum-museum di Malaysia, di Jepang, dan tentunya di Indonesia (MZB). Kegiatannya sehari-hari mengukur dan membandingkan secara detail semua karakter morfologi semua specimen tersebut. "Salah satu spesimen yang saya periksa memiliki karakter yang unik, dan berbeda dengan Leptobrachium lainnya dari Sumatra, yakni L. hasseltii, L. nigrops dan L. hendriksoni, yaitu tidak memiliki pola warna pada bagian atas tubuh dan sekitar posterior pahanya," tulis Amir dalam surat elektronik pada Kompas.com. Namun saat itu ia masih dipenuhi rasa ingin tahu karena belum melihat...

Ada Udang Hidup di Kedalaman 180 Meter Es Antartika

WASHINGTON – Penemuan ini menantang anggapan umum tentang kemampuan bertahan dari organisme kompleks, yakni organisme yang lebih dari sekadar bakteri atau berbentuk sel tunggal saja. Kalau ada udang bisa bermain-main di bawah lapisan es 180 meter, bagaimana di bulan Jupiter, Europa, yang tertutup es? Para ilmuwan menemukan fauna dari keluarga udang-udangan dan juga ubur-ubur yang bertahan hidup di bawah lapisan tebal es di Antartika, yang mana tadinya disangka tak mungkin ada binatang yang bisa bertahan di tempat seperti itu. Di bawah lapisan es setebal 600 kaki, atau kira-kira 180 meter, dan tanpa sinar matahari, tadinya para ilmuwan berasumsi hanya mikroba yang bisa bertahan hidup. Betapa terkejutnya tim NASA ketika mereka menurunkan kamera untuk menelusuri perairan di bawah lapisan es Antartika. Seekor hewan seperti udang berenang mendekat lalu hinggap di kabel kamera. Para ilmuwan juga menemukan bekas tentakel yang diduga berasal dari sejenis ubur-ubur. "Tadinya kami berasum...

Kisah Dinosaurus yang Belum Usai

Kisah tentang dinosaurus selalu menarik. Misteri yang menyelimutinya selalu menunggu untuk terus dan terus dikuak. Para ahli pun tak pernah kekurangan isu tentang hewan purba yang satu ini. Perdebatan ilmiah, pertanyaan ontologis, terus bergulir: apakah sebenarnya "dinosaurus" itu? Apakah benar dinosaurus itu termasuk jenis burung? Mengaitkan dinosaurus dengan burung adalah perdebatan tak kunjung usai yang sudah dimulai sejak abad ke-19. Ketika itu, jejak kaki dinosaurus disalah tafsir sebagai jejak kaki burung (Glut, Dinosaurus-The Encyclopedia, 1997). Yang paling awal dianggap sebagai burung, yaitu genus Archaeopteryx—yang memiliki bulu (feathers), tetapi juga gigi dan berbagai ciri-ciri reptil lainnya. Dia dinobatkan sebagai ”burung yang tak terbantahkan yang pertama” (Currie dan Zhao, 1993). Spesimen fosil pertama spesies Archaeopteryx lithographica ditemukan pada 1860 di lapisan Solnhofen Limestone (lapisan zaman Upper Jurassic) di Franconia, Bavaria. Temuan tersebut men...

Ribuan Jejak Dinosaurus Ditemukan di China

JAKARTA — Lebih dari 3.000 jejak dinosaurus ditemukan di China. Demikian laporan dari media resmi China, Minggu (7/2/2010). Jejak dinosaurus tersebut ditemukan di kawasan yang disebut-sebut sebagai tempat terkaya akan tulang belulang binatang purba yang telah menjadi fosil. Jejak yang ditemukan diperkirakan berusia lebih dari 100 juta tahun. Penemuan itu terjadi setelah dilakukan evakuasi selama tiga bulan di sebuah selokan di Zhucheng, sebelah timur Provinsi Shandong, demikian dituliskan kantor berita Xinhua. Jejak tersebut berukuran panjang 10 sentimeter-80 sentimeter dan berasal dari sekurangnya enam jenis dinosaurus yang berbeda, termasuk tyranosaurus. Sabtu (6/2), seorang ahli dari Chinese Academy of Sciences, Wang Haijun, mengatakan, jejak-jejak tersebut menghadap ke arah yang sama. Ini mengindikasikan pergerakan migrasi yang menandai kepanikan dari dinosaurus pemakan tumbuhan ini yang diduga diserang kelompok hewan pemangsa (predator) dinosaurus. Wang menambahkan, para ahli ark...

Ternyata, Bayi Sudah Gemar Joget

Hasil riset baru-baru ini menunjukkan bahwa menari itu alami untuk bayi dan bayi lebih merespons ritme, tempo, serta musik dibandingkan kata-kata atau percakapan. Temuan ini didapatkan dengan mengamati 120 bayi dengan rentang usia lima bulan hingga dua tahun. Ternyata, manusia sejak bayi sudah ada kecenderungan untuk bergerak sesuai dengan ritme musik. "Riset kami menunjukkan bahwa ketukan lebih berpengaruh daripada melodi untuk menghasilkan respons terhadap bayi," tutur Marcel Zentner, psikolog dari Universitas York, Inggris. "Kami juga mendapatkan bahwa makin si bayi bisa menyesuaikan gerakannya dengan lagu, makin banyak ia tersenyum." Untuk menguji kecenderungan bayi bergoyang, para ilmuwan ini memainkan musik klasik, ketukan beritme, dan juga kata-kata pada sekumpulan bayi. Hasilnya diabadikan dalam video. Para ilmuwan juga mengikutsertakan sejumlah penari balet profesional untuk menganalisis kecocokan gerakan bayi dengan musik yang dimainkan. Selama percobaan i...

Ada Mawar di Antariksa

Teleskop NASA memotret sebuah awan antariksa yang dipenuhi bintang-bintang baru yang ditaburi debu-debu ruang angkasa. Citra inframerah ini berasal dari kumpulan bintang baru yang dilabel Berkeley 59. Tiap bintangnya "baru" beberapa juta tahun dan karena warna-warni merah dan hijaunya, para ilmuwan NASA menyamakannya dengan sebuah mawar kosmis. Citra ini diambil oleh perangkat baru NASA, yaitu Penjelajah Survei Inframerah Berlingkup Lebar atau Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE). Pengamat antariksa ini bernilai 320 juta dollar AS dan dibangun untuk memetakan seluruh langit dengan mendetail. Teleskop ini juga telah memotret asteroid gelap dan komet yang sebelumnya susah ditangkap citranya. Teleskop WISE milik NASA diperkirakan bisa menyelesaikan pemetaan langitnya dalam enam bulan lagi. Kembali pada mawar kosmis itu, cahaya merah di tengahnya adalah akibat panas yang dipancarkan oleh bintang-bintang dalam awan itu. Daerah hijau zamrud di pinggirannya adalah molekul-mole...

Ayo Ikut Aksi Ubah Dunia Dalam 1 Jam

Worldwide Wildlife Fund for Nature atau WWF Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya warga Jakarta, untuk berpartisipasi dalam program 60 Earth Hour 2010. Melalui program ini, WWF dan Pemprov DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan aksi mematikan lampu selama satu jam pada Sabtu, 27 Maret 2010, mulai dari pukul 20.30 WIB hingga 21.30 WIB. Aksi serempak yang juga dicanangkan di banyak negara di dunia tersebut digelar untuk mengantisipasi kondisi perubahan iklim dunia. Dengan gerakan mematikan lampu secara serempak selama satu jam, diharapkan warga dunia, termasuk masyarakat Indonesia, dapat berkontribusi dalam menghemat energi, menekan emisi karbon, sekaligus mengurangi dampak global warming di dunia. "Kami harapkan dengan aksi ini kita dapat melakukan antisipasi terhadap perubahan iklim dunia yang sudah semakin mengkhawatirkan. Apa yang kita lakukan sedikit memang, tapi saya yakin kalau dila...